Type to search

Belajar dari Pak Achmad

Share

Suatu hari saya menyetop taksi di tengah jalan. Seperti biasa saya langsung mengambil posisi tempat duduk ternyaman dan saya anggap tempat terbaik untuk menyerap ilmu pengetahuan, kursi di samping kemudi. Supir saya hari ini adalah Pak Achmad, seorang keturunan Arab-Betawi yang baru empat tahun ini menjadi pengemudi taksi dan berumur sekitar 50 tahunan. Sebelumnya, Pak Achmad bekerja menjadi pengemudi mobil kantor sebuah perusahaan minyak dengan penghasilan yang mencukupi, setelah habis kontraknya beliau pun sempat menjadi supir agen perjalanan wisata dan supir pribadi. Selama perjalanan, saya pun sempat menanyakan tentang keluarga Pak Achmad. Pak Achmad ketika bercerita tentang keluarga pembawaannya menjadi semangat sekaligus sedih. Dengan intonasi yang rendah dan wajah yang sayu. Beliau bercerita bahwa di mempunyai 5 orang anak yang kesemuanya adalah perempuan, salah satu diantaranya sudah dipanggil dahulu oleh Yang Kuasa. Keempat anak lainnya sekarang sudah berkeluarga dan tersebar di berbagai tempat, seperti Bali, Bogor dan Jakarta. Namun, anaknya yang tinggal di Jakarta lokasinya cukup jauh darinya sehingga cukup jarang untuk bertemu. Mendengar cerita itu saya pun membayangkan betapa sepinya rumah ketika kesemua anak perempuannya harus pindah mengikuti suami, tinggal Beliau bersama istri. Saya pun berujar “Wah sepi Pak di rumah ? Tinggal Bapak sama Ibu” mendengar pertanyaan saya, mimik wajah Pak Achmad berubah menjadi lebih sedih, beliau berujar “Istri saya sudah meninggal, jadi saya sendirian di rumah Dek”. Saya pun tercekat mendengar jawaban Pak Achmad, saya pun meminta maaf, “Innalillahiwa inna ilaihi rojii’un, mohon maaf Pak sebelumnya”, Pak Achmad pun membalas “Tidak apa-apa Dek, Bapak sendirian sekarang di rumah, Bapak jadi pengemudi taksi biar cari kegiatan biar tidak bosan di rumah sendirian, anak-anak kan sudah berkeluarga dan terpisah-pisah sekarang.” Mencoba membangkitkan kembali semangat Pak Achmad saya pun mengganti topik pembicaraan, “Pak Achmad cucunya sudah berapa? Keluarga masih sering mengunjungi tapi kan pak ?” Beliau pun menjawab “kalau cucu sudah berapa ya 5 atau 6 tapi kalau ketemu keluarga saya jarang paling telepon saja, itupun kalau anak saya ada perlu. Saya paling semangat kalau ketemu teman-teman lama, kalau mengobrol dengan mereka sepertinya semangat lagi, tapi ya itu banyak dari mereka yang sudah meninggal dan banyak juga yang saya tidak tahu keberadaannya sekarang.” Tidak lama setelahnya percakapan kami pun harus terputus karena saya sudah sampai ditujuan, saya pun mengucapkan terima kasih atas cerita dan pelajarannya kepada Pak Achmad. Saya membatin di usia yang tak lagi muda beliau harusnya dikelilingi oleh keluarga dan orang-ornag yang dia cintai, namun faktanya sekarang Beliau sendiri dan merasa kesepian, sampai-sampai bekerja menjadi supir taksi karena ingin mencari kegiatan agar tidak merasa kesepian di rumah. Mari sama-sama kita jaga orangtua kita, seringlah mengunjungi orangtua kita atau setidaknya menanyakan kabar mereka meskipun kita jauh. Benar kita memang sudah berkeluarga dan memiliki pekerjaan yang yang menuntut banyak waktu kita. Tetapi, apakah kita tidak punya waktu untuk sekedar menanyakan kabar mereka yang hanya memakan waktu sekitar 5-10 menit? Ingatkah kita bahwa mereka meluangkan bertahun-tahun waktunya hanya untuk mendidik dan membiaya hidup kita tanpa pamrih? Kita tidak mau melihat orangtua kita menjadi Pak Achmad selanjutnya.

Andrian Chandra Faradipta
SCM Departement

Previous Article
Next Article