Type to search

Gerbong Satu

Share

Matahari bergeser mengisyaratkan senja mulai menghampiri. Terdengar kaki-kaki setengah berlari mengejar kereta paling pagi meski sudah sore hari. Sekalipun lelah menggerogoti, namun kaki dipaksa tegar berdiri, sedikit lagi. Segalanya bercampur dalam satu waktu, berada ditengah dan menjadi bagian dari kerumunan. Panas, gerah nan menyesakkan. Semua berusaha memadatkan badan saat gerbong demi gerbong melintas didepan kerumunan. Yang berada didepan harus masuk dengan cara dipaksakan, yang berada dibelakang hanya bisa menyaksikan dengan diam dan penuh kesabaran. Hampir semua yang tidak duduk pasti berdiri, dari hak tinggi atau yang hanya sekedar alas kaki. Beberapa sadar diri, yang lainnya menutup mata mengerutkan dahi tanda lelah bekerja sepanjang hari, padahal perut tak terisi. Banyak dari kita berucap, bertukar penat. Mulai dari perbincangan sederhana sampai rahasia yang cukup pekat. Ada yang sekedar berbagi, ada yang mencari secercah informasi. Tidak sadar seberapa banyak yang tersebar, karena kesempatan dan rasa nyaman membius segalanya. Banyak pula yang tidak sadar bahwa dari jauh telah menyakiti. Suara-suara mengudara, dan bising melengkapi tercampur lantunan informasi. Beberapa merasa aman, mungkin karena tidak ada yang mengenali. Padahal banyak telinga yang terpasang untuk sekadar nimbrung mencuri informasi. Sebagian merasa nyaman, sebagian lagi mulai resah dan berlangsung sepanjang jalan. Kepadatan yang membuat badan terhimpit, memaksa semua bertukar udara berbagi nafas. Sebagian tercium wangi, sebagian lagi terpapar wangi yang terkumpul sejak pagi hingga sore hari. Ada yang berdecak, ada yang berusaha bersuara sedikit lebih lantang. Yang lainnya berbisik agar tak ada yang merasa terusik. Semua berada di lingkup yang sama. Meski kepentingannya jelas berbeda. Dari diri yang berada ditengah-tengah manusia didalam gerbong kereta wanita.

Destiara Almas
Admin Area PGN Manhattan