Type to search

Keajaiban Memberi

Share

Sesungguhnya diri kitalah kesaksian utama baginya, tetapi seperti halnya kelelawar yang bisa melihat pada malam hari, dan tidak siang hari karena kelemahan penglihatannya yang dibutakan oleh benderangnya sinar matahari, begitu pula pikiran manusia terlalu lemah untuk melihat keagungan penuh kebesaran Illahi. Aku hanya manusia biasa bahkan manusia pendosa yang entah doaku di ijabah atau tidak, hari ini dibawah panasnya matahari diri ini sungguh lelah, setiap hari berpakaina hitam putih membawa sebuah amplop coklat berisikan CV. Yah aku sedang mencari pekerjaan dengan uang yang seadanya, dan hari ini aku telah selesai interview di salah satu perusahaan yang aku impikan, walaupun aku masih harus menunggu hasil pengumumannya. Aku tak percaya bahwa dengan sedekah Allah akan memberi balasan secepat itu apalagi kali itu dalam pemikiranku aku belum mampu untuk memberi dan belum menjadi kewajiban ku untuk memberi, namun aku tersentuh dengan seorang anak laki-laki yang membawa sebuah jinjingan berisi jajanan. Sebenarnya aku tak terlalu lapar dan tak berselera melihat makanan itu, hanya saja aku penasaran dengan sosok anak itu, aku bertanya “Adek tidak sekolah ? setiap hari jualan?”.

Anak itupun menjawab “saya sekolah, sepulang sekolah saya jualan” aku pun membeli jajanan itu, ku rogoh uang seratus ribu yang ada di kantongku anak itu sempat protes karena tak ada kembalian, aku tersenyum dan mengatakan “kembaliannya boleh adek ambil” anak itupun sempat menolak uang yang aku beri bahkan sampai menggeratiskan jajanan yang aku beli. Akupun akhirnya memaksa agar ia mengambil uang itu. Setelah sholat ashar aku duduk di teras masjid sambil beristirahat. Ku melihat anak itu kembali, sedang bercengkrama dengan seorang nenek-nenek. Ku beranikan diri untuk mendekati anak itu kembali dan bertanya kepada nenek-nenek tersebut “ini cucu nya nenek?”.

Dengan tersenyum nenek itu menjawab “Dia sudah dianggap seperti cucu nenek sendiri, walaupun dia hanya anak tetangga” jawab si nenek dengan wajah bahagia memeluk anak kelas 5 sekolah dasar itu. Nenek itupun bercerita kepadaku bahwa setiap hari anak laki-laki itu membantu nenek berjualan karena si nenek sudah tak sanggup untuk berjalan terlalu jauh berkeliling menjajakan tersebut, nenek yang berjualan di depan masjid sedangkan anak laki-laki itu membantu berkeliling berjualan. Aku sangat terharu mendengar cerita nenek yang hidup sebatang kara dan keikhlasan anak laki-laki itu. Hati sungguh teriris dengan yang telah anak itu lakukan. Aku sangat malu dengan diriku yang selalu berfikir membantu atau memberi bukanlah kewajibanku, karena belum mempunyai penghasilan. Dari anak ini aku belajar memberi atau membantu tak harus dengan uang. Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak muda yang tak asing bagiku datang kepada kami bertiga yang sedang duduk di teras masjid, anak itupun berkata “Ayah…” sambil memeluk. Aku pun terkejut karena bapak muda ini adalah HRD dari perusahaan yang memanggil interview diriku. Anak itupun langsung bercerita tentang aku pada ayahnya. Selang dua hari setelah kejadian itu akupun dapat e-mail dari perusahaan yang aku impikan bahwa aku di terima di perusahaan itu. Sungguh aku sangat bahagia dan aku sadar bahwa Tuhan maha penyayang dan maha adil, keajaiban memberi aku rasakan saat ini, aku sangat berterimakasih kepada anak kecil yang telah mengajarkan aku keikhlasan membantu.

Rendy apriyansah
O&M area jakarta

Previous Article
Next Article