Type to search

Uncategorized

Udeng

Share

Namanya berbeda-beda sesuai daerah penggunanya. Ada yang menyebut Totopong (Sunda), Blangkon (Jawa Tengah), Iket (Jawa Timur bagian timur), Udeng (Jawa Timur bagian barat), seperti orang Bali juga menamainya Udeng

Fungsi, Jenis dan Bentuk

Udeng berfungsi sebagai penutup kepala bagi pria, lalu berkembang menjadi tradisi. Penutup kepala ini dulu juga menunjukkan atribut sosial seseorang, dilihat dari bahan, warna, bentuk pakai,dan status sosial si pemakai.

Jenis udeng biasa menggunakan kain batik berlatar belakang hitam dengan warna batik putih atau warna putih dan coklat. Sedangkan jenis iket yang umum menggunakan kain berbatik motif kembang, berlatar belakang merah dengan motif kembang berwarna merah tua. Dalam perkembangan saat ini, banyak menggunakan kain batik lembaran (textil) dengan pilihan warna beragam.

Mula-mula orang memakai iket. Dibentuk dari lembar kain berbentuk segi empat. Lalu dilipat membentuk segitiga. Kemudian berkembang menjadi bentuk lebih praktis, seperti topi tinggal pakai, yang dikenal dengan nama udeng.

Makna

Iket yang dikencangkan di kepala bermakna agar si pemakai memiliki fikiran yang kukuh, fokus, matang, dan tidak tidak terombang-ambing oleh keadaan apa pun. Sedangkan Udeng diambil dari kata mudheng yang berarti memahami dengan jelas arti kehidupan. Maknanya, agar seseorang memiliki kecakapan dalam hidup karena telah mengerti dan menguasai dasar keilmuannya.

Empat sudut kain melambangkan kesatuan dari 4 unsur; niat, ucapan, sikap, dan gerak tubuh. Sementara sudut segitiga sebagai simbol trinetra atau tritunggal. Bila dicermati, sudut segitiga juga tampak pada persilangan kain yang ada di kening sebelah kanan dan di dahi di atas hidung. Trinetra itu mewartakan makna bahwa manusia dalam menjalankan kehidupannya wajib untuk selalu menjaga keharmonisan hidup antara sesama manusia, alam lingkungan, dan Tuhan.

Kemudian di bagian belakang udeng, ada 2 ujung kain yang menjulang ke atas. Dua untaian itu melambangkan iman yang melandasi hidup, yakni iman kepada Allah dan rasul utusan-Nya, sebagaimana termaktub dalam syahadatain.

Sejarah

Ada versi menyebut iket telah ada dalam legenda Aji Saka, pencipta tahun Saka atau tahun Jawa, sekitar 20 abad yang lalu. Diceritakan Aji Saka berhasil mengalahkan Dewata Cengkar dalam peperangan hanya dengan menggelar kain penutup kepala yang kemudian dapat menutupi seluruh tanah Jawa.

Versi lain menyatakan iket merupakan pengaruh budaya Hindu dan Islam. Para pedagang dari Gujarat keturunan Arab selalu mengenakan sorban, kain panjang yang kemudian dililitkan di kepala, lalu orang Jawa terinspirasi memakai ikat kepala serupa mereka.

Ada pula versi yang mengatakan, di satu waktu akibat peperangan kain menjadi barang yang sulit didapat sehingga petinggi keraton meminta seniman untuk menciptakan ikat kepala yang lebih efisien yaitu udeng.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *